Program Pascal Rental Mobil

Program Pascal Rental Mobil menggunakan pengurutan selection minimum short dan pencarian menggunakan binary search.

Laporan Kegiatan Pementasan Drama

Ini adalah karya dari kelas XII IPA 1 di SMA Negeri 1 Sliyeg, Kab. Indramayu.

Pariwisata Indramayu

Sebagai wong dermayu kita kudu bangga, kudu melestarikan budayae, kudu njaga lingkungane, lan kudu memajukan, soke masyarakate sejahtera.

Cara Membuat WiFi dengan Mudah tanpa Software (hanya menggunakan cmd)

Tips dan trik cara membuat wifi mudah, praktis tanpa download ataupun instal software apapun, caranya sangat simpel tanpa perlu keahlian khusus.

Free Download Software Cisco Packet Tracer

Download Software Cisco Packet Tracer Full Version ini dengan mudah.

Kamis, 27 Desember 2012

Laporan Praktikum Isolasi DNA


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
            Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kelompok kami berhasil menyelesaikan makalah laporan praktikum biologi yang alhamdulillah selesai tepat pada waktunya.
            Makalah ini berisikan tentang hasil dari praktikum isolasi DNA untuk mempelajari dan mengetahui bentuk DNA pada buah-buahan yang dijadikan bahan praktikum. Laporan ini dibuat agar pembaca dapat memperluas pengetahuan tentang DNA.
            Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada guru bidang study biologi Ibu MASHITOH yang telah membimbing kami, sehingga kami dapat melakukan praktikum isolasi DNA dengan baik dan benar.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari guru dan teman-teman yang bersifat membangun , selalu kami harapkan demi lebih baiknya makalah ini.
            Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita, Aamiin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Sliyeg, 01 September 2012


            Penyusun




Daftar Isi
Kata Pengantar............................................................................................ 1
Daftar Isi..................................................................................................... 2
Bab I          
Pendahuluan................................................................................................ 3
1.1.         Latar Belakang............................................................... 3
1.2.         Tujuan Penelitian............................................................ 4
1.3.         Rumusan Masalah.......................................................... 4
1.4.         Landasan Teori............................................................... 5
Bab II        
Metode Praktikum....................................................................................... 6
                   2.1.    Waktu dan Tempat...............................................................6
                   2.2.    Alat dan Bahan.....................................................................6
                   2.3.    Prosedur Kerja......................................................................6
Bab III       
Hasil dan Pembahasan................................................................................ 7
                   3.1.    Data Hasil Pengamatan........................................................7
                   3.2.    Tabel Hasil Pengamatan.......................................................8
                   3.3.    Pembahasan..........................................................................8
                   3.4.    Diskusi..................................................................................9
Bab IV       
Penutup...............................................................................................................10
                   Kesimpulan.....................................................................................10
Daftar Pustaka.....................................................................................................11




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.           Latar Belakang

Ketika mendengar kata DNA, seolah kita berhadapan dengan sesuatu yang begitu abstrak dan sangat kecil. Apalagi jika berbicara tentang isolasi DNA, sering terpikirkan sebuah proses yang sangat rumit dengan alat-alat yang sangat canggih.Padahal tidak selamanya isolasi DNA demikian, beberapa teknik isolasi DNA sederhana terbukti efektif untuk mengisolasi DNA, bahkan selain prosedurnya yang sederhana, bahan-bahan yang dipakaipun mudah didapatkan dari lingkungan sekitar. Sangat cocok untuk praktikum pengenalan DNA pada siswa MTs/SMP juga MA/SMA. Berikut ini pembahasan tentang isolasi DNA secara seddasan Teori............................................................... 5
DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) adalah master molecul (molekul utama) yang mengkode semua informasi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam setiap organisme.
DNA ini tersusun atas 3 komponen utama yaitu gula deoksiribosa, basa nitrogen dan fosfat yang tergabung membentuk nukleotida. Molekul DNA ini terikat membentuk kromosom, dan ditemukan di nukleus, mitokondria dan kloroplas. DNA yang menyusun kromosom ini merupakan nukleotida rangkap yang tersusun heliks ganda (double helix), dimana basa nitrogen dan kedua ”benang” polinukleotida saling berpasangan dalam pasangan yang tetap melalui ikatan hidrogen dan antara nukleotida yang satu dengan nukleotida yang lain dihubungkan dengan ikatan fosfat. DNA terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup dan disebut sebagai ”cetak biru kehidupan” karena molekul ini berperan penting sebagai pembawa informasi hereditas yang menentukan struktur protein dan proses metabolisme lain.
DNA dapat mengalami denaturasi dan renaturasi. Selain itu DNA juga bisa diisolasi. Zubaidah (2004) dalam Jamilah (2005) menyatakan bahwa isolasi DNA dapat dilakukan melauli tahapan-tahapan antara lain: preparasi esktrak sel, pemurnian DNA dari ekstrak sel dan presipitasi DNA. Meskipun isolasi DNA dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi pada setiap jenis atau bagian tanaman dapat memberikan hasil yang berbeda, hal ini karena adanya senyawa polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi tinggi yang dapat menghambat pemurnian DNA. Jika isolasi DNA dilakukan dengan sampel buah,
maka kadar air yang pada masing-masing buah berbeda, dapat memberi hasil yang berbeda pula. Buah dengan kadar air tinggi akan menghasilkan isolat yang berbeda jika dibandingkan dengan buah berkadar air rendah. Semakin tinggi kadar air maka sel yang terlarut di dalam ekstrak akan semakin sedikit, sehingga DNA yang terpretisipasi juga akan sedikit.
Proses isolasi DNA diawali dengan proses ekstraksi DNA. Hal ini bertujuan untuk memisahkan DNA dengan partikel lain yang tidak diinginkan. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada DNA. Untuk mengeluarkan DNA dari sel, dapat dilakukan dengan memecahkan dinding sel, membran plasma dan membran inti baik dengan cara mekanik maupun secara kimiawi. Cara mekanik bisa dilakukan dengan pemblenderan atau penggerus menggunakan mortar dan pistil. Sedangkan secara kimiawi dapat dengan pemberian yang dapat merusak membran sel dan membran inti, salah satunya adalah deterjen.
Penambahan deterjen dalam isolasi DNA dapat dilakukan karena deterjen dapat menyebabkan rusaknya  mebran sel, melalui ikatan yang dibentuk melalui sisi hidrofobik deterjen dengan protein dan lemak pada membran membentuk senyawa  ”lipid protein-deterjen kompleks”. Senyawa tersebut dapat terbentuk karena protein dan lipid memiliki ujung hidrofilik dan hidrofobik, demikian juga dengan deterjen, sehingga dapat membentuk suatu ikatan kimia.

1.2       Tujuan Penelitian
·         Untuk mengetahui cara/metode yang benar untuk memisahkan (mengisolasi) DNA dari buah-buahan.
·         Mengetahui keefektifan deterjen dan buah yang dipakai untuk melakukan percobaan isolasi DNA
1.3       Rumusan Masalah
·      Bagaimana metode yang benar dalam melakukan percobaan isolasi DNA?
·      Bagaimana kefektifan buah dan deterjen yang digunakan dalam praktikum isolasi DNA


1.4       Landasan Teori
DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) adalah master molecul (molekul utama) yang mengkode semua informasi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dalam setiap organisme. DNA ini tersusun atas 3 komponen utama yaitu gula deoksiribosa, basa nitrogen dan fosfat yang tergabung membentuk nukleotida. Molekul DNA ini terikat membentuk kromosom, dan ditemukan di nukleus, mitokondria dan kloroplas. DNA yang menyusun kromosom ini merupakan nukleotida rangkap yang tersusun heliks ganda (double helix), dimana basa nitrogen dan kedua ”benang” polinukleotida saling berpasangan dalam pasangan yang tetap melalui ikatan hidrogen dan antara nukleotida yang satu dengan nukleotida yang lain dihubungkan dengan ikatan fosfat. DNA terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup dan disebut sebagai ”cetak biru kehidupan” karena molekul ini berperan penting sebagai pembawa informasi hereditas yang menentukan struktur protein dan proses metabolisme lain.
DNA dapat mengalami denaturasi dan renaturasi. Selain itu DNA juga bisa diisolasi. isolasi DNA dapat dilakukan melauli tahapan-tahapan antara lain: preparasi esktrak sel, pemurnian DNA dari ekstrak sel dan presipitasi DNA. Meskipun isolasi DNA dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi pada setiap jenis atau bagian tanaman dapat memberikan hasil yang berbeda, hal ini karena adanya senyawa polifenol dan polisakarida dalam konsentrasi tinggi yang dapat menghambat pemurnian DNA. Jika isolasi DNA dilakukan dengan sampel buah, maka kadar air yang pada masing-masing buah berbeda, dapat memberi hasil yang berbeda pula. Buah dengan kadar air tinggi akan menghasilkan isolat yang berbeda jika dibandingkan dengan buah berkadar air rendah. Semakin tinggi kadar air maka sel yang terlarut di dalam ekstrak akan semakin sedikit, sehingga DNA yang terpretisipasi juga akan sedikit.


BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1.      Waktu dan tempat 
Waktu                        : Senin, 01 Oktober 2012
 Pukul             : 10.45 – 12.00 WIB
Tempat           : Laboratorium SMA NEGERI 1 SLIYEG
2.2.      Alat dan bahan
Alat
  1. Gelas ukur
  2. Plastik es
  3. Penyaring (tissu)
  4. Corong
  5. Spatula
  6. Tabung reaksi dan rak tabung
  7. Tabung reaksi dan rak tabung
Bahan
1.   Buah (pepaya, semangka, melon, kersem, jeruk)
2.   Sunlight
3.   Alkohol dingin (alkohol didinginkan dengan es batu)
4.   Garam dapur
2.3.      Prosedur kerja  
1.      Siapkan alat dan bahan
2.      Masukkan tiap buah pada masing-masing plastik es untuk di haluskan
3.      Setelah buah sudah halus, saring untuk memisahkan serat dengan estraknya
4.      Butlah campuran garam dapur satu takaran spatula dengan sunlight dua takaran spatula di dalam plastik es (buatlah 5 campuran untuk masing-masing yang akan dicampurkan dengan ekstrak buah)
5.      Satukan campuran garam dan sunlight dengan ekstrak buah
6.      Takarlah untuk mengetahui seberapa banyak campuran pada point 5 dengan menggunakan gelas ukur
7.      Masukkan campuran yang telah diketahui takarannya dalam tabung reaksi
8.      Tambahkan alkohol dingin secara perlahan agar tidak merusak DNA
9.      Amati proses timbulnya DNA serta banyak sedikitnya DNA yang terbentuk


 
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1       Data Hasil Pengamatan







\




 










3.2       Tabel Hasil Pengamatan
JENIS BUAH
HASIL PENGAMATAN
BENTUK
WAKTU
Jeruk
Benang
cepat
Kersem
Benang
cepat
Semangka
Tidak Terbentuk
lambat
Melon
Benang
sedang
Pepaya
Benang
sedang
3.3       Pembahasan
Isolasi DNA pada dasarnya dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam sumber DNA yang dapat diperoleh dari hewan maupun tumbuhan. Upaya untuk mengeluarkan DNA dari sel dilakukan dengan merusak dinding dan membrane sel dan juga membran inti. Cara yang digunakan untuk merusak membran-membran tersebut sangat beraneka ragam, misalnya dengan pemblenderan atau penggerusan dengan mortal dan pistil. Selain perusakan secara fisik, membrane dan dinding sel dapat pula dirusak dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia. Perusakan dinding sel dan membrane sel pada praktikum isolasi DNA kali ini dilakukan dengan cara penggerusan. DNA yang didapatkan dalam pengamatan kali ini adalah DNA yang berupa benang-benang halus.
Apabila dilihat dari sumber DNA yang digunakan untuk pengisolasian ini, macam buah yang digunakan menunjukkan perbedaan yang nyata. Masing-masing buah untuk sumber DNA menghasilkan DNA yang berbentuk benang-benang halus berwarna sesuai dengan warna asal buah tersebut. Kelima macam buah yang digunakan dalam proses pengisolasian DNA kali ini adalah jenis buah yang memiliki kadar air yang tinggi. Tidak ada perbedaan yang ditunjukkan untuk perlakuan variasi jenis buah ini. Suatu sumber menyatakan bahwa dalam proses pembuatan sumber DNA untuk isolasi DNA hendaknya jangan terlalu encer karena semakin encer sumber DNA, DNA yang terpresipitasi akan semakin sedikit. Karena sel yang lisis di dalam air tentunya lebih sedikit jika dibandingkan dengan sumber DNA yang lebih kental (Anonim, 2005). Namun, masalah pengaruh keenceran terhadap hasil isolasi DNA dapat diatasi dengan pengurangan jumlah air yang digunakan sehingga walaupun sumber DNA yang digunakan adalah buah dengan kadar air tinggi, tetap dapat diperoleh ekstrak yang cukup kental.
Membran sel pada setiap organisme dapat mengalami kerusakan yang disebabkan oleh pengaruh senyawa-senyawa kimia. Senyawa kimia yang mampu merusak membrane ataupun dinding sel antara lain lisozim yang mampu mempengaruhi kerja senyawa polimerik sehingga kekakuan sel tidak lagi dapat terjaga. Selain itu, ada pula senyawa EDTA (etilendiamintetraasetat) yang berfungsi untuk menghilangkan ion Mg2+ yang penting untuk mempertahankan struktur selubung sel serta menghambat enzim yang dapat merusak DNA. Dalam proses isolasi DNA, deterjen berfungsi menggantikan senyawa-senyawa kimia tersebut di atas. Deterjen mengandung sodium dodesil sulfat (SDS) yang dapat menyebabkan hilangnya molekul lipid pada membran sel sehingga struktur membrane akan rusak dan melisiskan isi sel.
Pada Pengisolasian DNA menggunakan garam dapur dengan tujuan untuk memekatkan DNA. Hal ini dapat terjadi karena ion Na+ yang dikandung oleh garam mampu membentuk ikatan dengan kutub negative pada ikatan fosfat DNA. Saat ion Na+ garam berikatan dengan fosfat, pada saat itulah DNA akan berkumpul. Sedangkan penambahan alcohol pada permukaan larutan betujuan untuk melakukan presipitasi sehingga DNA yang telah terkumpul tadi mampu memisah dari larutan dan terbentuklah lapisan-lapisan yang dapat diidentifikasi unsur penyusunnya.
3.4       Diskusi
1.    Teknik isolasi DNA, merupakan suatu cara/metode untuk memisahkan DNA dari sel, baik dari inti, mitokondria maupun kloroplas.
2. Garam: Menyebabkan protein dan karbohidrat terpresipitasi ke dalam larutan yang kemudian tersaring pada proses penyaringan, serta berperan sebagai ”lysing buffer”, yakni menjaga pH larutan agar tetap konstan, sehingga diharapkan tidak terjadi denaturasi DNA.
Penghalusan : Merusak dinding sel secara mekannik sehingga DNA dapat keluar dari dalam sel.
sabun krim : Merusak membran sel dan membran inti sehingga DNA yang diinginkan dapat dikeluarkan dari dalam sel.
Penyaringan : Agar komponen sel selain DNA tidang mengkontaminasi DNA yang hendak diisolasi.
Alkohol  : Mempresipitasikan asam nukleat polimerik dengan baik untuk meningkatkan konsentrasi DNA.
3.  Penghalusan disini digunakan untuk memecahkan sel-sel secara mekanik. Jika proses penghalusan dilakukan terlalu lama, dikhawatirkan tidak hanya memecahkan sel tetapi juga akan mencabik-cabik DNA, sehingga DNAnya hancur. Sedangkan jika terlalu sebentar, sel-sel belum seluruhnya terpacahkan.
5.      Alkohol berfungsi untuk memperitifikasi DNA. Alkohol dingin akan mempercepat proses tersebut.




BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis data dan pembahasan di atas adalah:
DNA dapat diisolasikan dari sumber DNA berupa buah dengan penambahan larutan deterjen dan alkohol serta garam untuk membantu presipitasi DNA. Perbedaan jumlah DNA yang dihasilkan dalam proses isolasi disebabkan oleh suhu alkohol  yang digunakan serta macam buah yang dipakai sebagai sumber DNA.














            DAFTAR PUSTAKA


Arhan. 2009. Laporan Pratikum isolasi DNA. (http://endikdenibiotransmitther.blogspot.com/2009/01/praktik  um-iso  lasi-d  na-buah.html)










Rabu, 28 Desember 2011

Naskah Drama Legenda Situ Bagendit

LEGENDA SITU BAGENDIT


Garut adalah salah satu daerah di jawa Barat. Merupakan daerah yang subur dan memiliki banyak tempat wisata. Salah satunya adalah Situ bagendit. Dan cerita ini adalah mengenai asal-usul terbentuknya situ Bagendit.


Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.

Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.

Petani 1       : “Wah kapan ya nasib kita berubah?.Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa   yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”

Petani 2       : “Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!. Kita mah harus     sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang                                   suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”

Sementara itu Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.


Nyai Endit    : “Barja!!!! Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?”.


Barja              : “Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi!     Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di                               luar karena sudah tak muat lagi.”


Nyai Endit    : “Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan               membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu,                           jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran                               bagi siapa saja yang membangkang!”.


Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.


Penduduk desa    : “Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita           terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah                                             harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu.                                                       Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang                                           lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”


Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.

Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.

Nenek             : “Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan   seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.

Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.


Nenek             :“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.


Penduduk desa  :“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi                tersebut


Nenek            : “Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya   si nenek


Nyi Asih         : “Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek                             akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu                           apa sama Nyi Endit?”


Nenek             : “Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.


Nyai Asih       : “Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek         lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih.


Nenek             : “Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada             pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain                            untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”


Nyi Asih         : “Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”


Nenek             : “Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi       pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang                           berharga milik kalian,” kata si nenek.


Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.


Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.

Para Centeng : “Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini         kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.

Nenek             : “Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.


Para Centeng : “Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau             makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”


Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya.


Nenek             : “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.

Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.


Nyi Endit       : “Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan   saja!”


Nyai Endit     :“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah             orang?” bentak Nyai Endit.


Nenek             : “Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak       makan,” kata nenek.


Nyi Endit       : “Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti     banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.


Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.


Nenek             : “Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak             bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah                                           menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang                                 kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena                                       ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”


Nyi Endit       : “Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat             centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.


Nenek            : “Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”


Nyi Endit      : “Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!”   kata Nyai Endit sombong.

Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.


Nyi Endit       : “Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai         tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”


Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.


Nenek             : “Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”


Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.


Nenek             : “Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang         sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”



Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.




Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.



Situ bagendit
(short version)

Pada zaman dahulu hiduplah seorang janda yang kaya raya,bernama Nyai Endit.
Ia tinggal di sebuah desa di daerah Garut, Jawa Barat. Nyai Endit mempunyai harta yang berlimpah ruah. Akan tetapi, ia sangat kikir dan tamak. Ia juga sangat sombong, terutama pada orang-orang miskin. Suatu hari Nyai Endit mengadakan selamatan karena hartanya bertambah banyak. Ketika selamatan itu berlangsung, datanglah seorang pengemis. Keadaan pengemis itu sangat menyedihkan. Tubuhnya sangat kurus dan bajunya compang-camping. “Tolong Nyai, berilah hamba sedikit makanan, ”pengemis itu memohon. Melihat pengemis tua yang kotor dan compang-camping masuk ke rumahnya, Nyai Endit itu marah dan mengusir pengemis itu. “Pengemis kotor tidak tahu malu, pergi kau dari rumahku, ”bentak Nyai Endit. Dengan sedih pengemis itu pergi. Keesokan harinya masyarakat disibukkan dengan munculnya sebatang lidi yang tertancap di jalan desa. Semua orang berusaha mencabut lidi itu. Namun,tidak ada yang berhasil. Pengemis tua yang meminta makan pada Nyai Endit muncul kembali.

Dengan cepat ia dapat mencabut lidi itu. Seketika keluarlah pancuran air yang sangat deras. Makin lama air itu makin deras. Karena takut kebanjiran,penduduk desa itu mengungsi. Nyai Endit yang kikir dan tamak tidak mau meninggalkan rumahnya. Ia sangat sayang pada hartanya. Akhirnya, ia tenggelam bersama dengan harta bendanya. Penduduk yang lain berhasil selamat. Konon,begitulah asal mula danau yang di kemudian hari dinamakan Situ Bagendit. (thanks to Dani Aristyanto)